Unknown

PEMAHAMAN KONSEP TENTANG IDENTITAS TRIGONOMETRI DENGAN METODE PEMBELAJARAN INKUIRI


Eva Juliana
Program Studi Tadris Matematika
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung


ABSTRAK

Terdapat bermacam-macam metode pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika. Salah satu metode pembelajaran tersebut adalah metode pembelajaran inkuiri. Metode pembelajaran inkuiri suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Trigonometri merupakan salah satu materi dasar dalam matematika. Dalam makalah ini akan dibahas tentang penerapan metode pembelajaran inkuiri untuk menanamkan konsep identitas Trigonometri pada siswa. Dengan metode pembelajaran inkuiri siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memahami konsep identitas trigonometri dan memecahkan masalah, kemudian hasilnya akan ditulis dalam bentuk resuman menggunakan bahasa mereka sendiri pada sebuah buku catatan khusus. Resuman ditulis menyerupai scrapbook yang disusun rapi dan indah. Siswa akan lebih mudah mempelajari jika materi dalam bentuk scrapbook karena materi tersajikan dengan rapi dan teratur. Apalagi materi tersebut disusun sendiri oleh siswa, maka siswa akan lebih mudah untuk mengingatnya.
Kata Kunci :  Metode Pembelajaran Inkuiri , Trigonometri, Identitas Trigonometri



PENDAHULUAN
Kata ilmu dalam bahasa Arab "ilm" yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Ilmu, sains, atau ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Ilmu bukan sekadar pengetahuan (knowledge), tetapi merangkum sekumpulan pengetahuan berdasarkan teori-teori yang disepakati dan dapat secara sistematik diuji dengan seperangkatmetode yang diakui dalam bidang ilmu tertentu. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa ilmu sangat penting bagi kehidupan manusia, Bahkan Allah SWT berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu seperti yang terdapat dalam firman Allah SWT:
$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? †Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râ“à±S$# (#râ“à±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ
Artinya : Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al mujadilah / 58:11)
Salah satu ilmu yang sangat penting adalah ilmu Matematika. Matematika merupakan ilmu dasar yang sudah menjadi alat untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lain. Seperti dalam ilmu Fisika, Kimia,Ekonomi, dan masih banyak yang ilmu-ilmu lainnya. Oleh karena itu penguasaan terhadap matematika mutlak diperlukan dan konsep-konsep dalam matematika mutlak diperlukan dan konsep-konsep matematika harus dipahami dengan betul dan benar sejak dini. Banyak siswa mengeluh ketika mempelajari matematika. Matematika adalah pelajaran yang menakutkan, pelajaran yang membuat pusing kepala, pelajaran yang membuat keringat dingin keluar dan gemetar . Kebanyakan siswa menyimpulkan bahwa matematika adalah pelajaran yang sangat sulit. Sehingga sedikit sekali minat terhadap mata pelajaran ini.
Salah satu pelajaran matematika yang sulit pada tingkatan SMA menurut kebanyakan siswa adalah Trigonometri. Trigonometri merupakan pelajaran matematika yang membutuhkan pemahaman konsep yang lebih. Oleh karena benyaknya rumus yang harus diingat oleh siswa mengharuskan siswa agar paham terlebih dahulu konsep-konsep pada Trigonometri. Sehingga bukan lagi menghafal rumus, akan tetapi rumus akan terbentuk melalui pemahaman tersebut.
Kenyataan pada lapangan siswa hanya menghafal rumus tanpa memahami konsep-konsep bagaimana rumus itu terbentuk. Pada materi Trigonometri terdapat rumus identitas Trigonometri, misalnya . Siswa hanya menghafal rumus tersebut tanpa memahami bagaimana rumus tersebut bisa terbentuk. Sehingga ketika siswa lupa terhadap rumus-rumus yang telah ia hafal, maka siswa tidak dapat lagi menyelesaikan permasalahan-permasalahan dalam Trigonometri.
Konsep dasar pada Trigonometri penting sekali untuk ditanamkan secara mutlak kepada siswa pada saat awal pembelajaran, sehingga untuk tahap selanjutkan siswa akan dengan mudah menangkap setiap materi yang terkait dengan Trigonometri. Konsep dasar Trigonometri akan berhasil diterima oleh siswa apabila dimulai dengan pembelajaran yang baik. Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang efektif dan menarik bagi siswa.
Proses pembelajaran cenderung berpusat pada guru. Guru hanya menerangkan  kemudian menuliskan pada papan tulis tanpa ada aktifitas siswa untuk terlibat dalam pembelajaran sehingga siswa cenderung pasif dan hanya menerima dan mencatat informasi tanpa memahami terlebih dahulu. Selain itu, hanya sebagian siswa saja yang memperhatikan penjelasan guru dan siswa yang lainnya tidak. Salah satu cara untuk menanamkan konsep Trigonometri pada siswa adalah dengan menerapkan metode pembelajaran inkuiri. Inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Disini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memahami konsep dan memecahkan masalah.

TEORI DASAR

1.        Belajar

Perubahan seseorang yang asalnya tidak tahu menjadi tahu adalah hasil dari proses belajar. Misalnya siska yang sebelumnya tidak pandai matematika sekarang menjadi mahir matematika. Perubahan hasil belajar diperoleh karena adanya usaha dari individu untuk belajar. Dari pernyataan tersebut dapat dijabarkan mengenai ciri-ciri belajar yaitu :
a.    Belajar adalah aktivitas yang dapat menghasilkan perubahan dalam diri seseorang, baik secara aktual maupun potensial.
b.    Perubahan yang didapat sesungguhnya adalah kemampuan yang baru dan ditempuh dalam jangka waktu yang lama.
c.    Perubahan terjadi karena ada usaha dari dalam diri setiap individu.
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam belajar meliputi:
a.    Prinsip Kesiapan.
Tingkat keberhasilan belajar tergantung pada kesiapan pelajar. Apakah dia sudah dapat  mengonsentrasikan pikiran, atau apakah kondisi fisiknya sudah siap untuk belajar.
b.    Prinsip Asosiasi
Tingkat keberhasilan belajar juga tergantung pada kemampuan pelajar mengasosiasikan atau menghubung-hubungkan apa yang sudah ada dalam ingatannya: pengetahuan yang sudah dimiliki, pengalaman, tugas yang akan dating, masalah yang pernah dihadapi, dll.
c.    Prinsip Latihan
Pada dasarnya mempelajari sesuatu itu perlu berulang-ulang atau diulang-ulang, baik mempelajari pengetahuan maupun keterampilan, bahkan juga dalam kawasan afektif. Makin sering diulang makin baiklah hasil belajarnya.
d.   Prinsip Efek (Akibat)
Situasi emosional pada saat belajar akan mempengaruhi hasil belajarnya. Situasi emosional itu dapat disimpulkan sebagai perasaan senang atau tidak senang selama belajar.

2.        Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses kerjasama antara guru dan siswa dalam memanfaatkan segala potensi dan segala yang ada baik potensi yang bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri seperti minat, bakat dan kemampuan dasar yang dimiliki termasuk gaya belajar maupun potensi yang ada di luar diri siswa seperti lingkungan, sarana dan sumber belajar sebagai upaya untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Pembelajaran dapat dipandang dari dua sudut, pertama pembelajaran dipandang sebagai suatu system, pembelajaran terdiri dari sejumlah komponen yang terorganisir antara lain tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, strategi dan metode pembelajaran, media pembelajaran/alat peraga, pengorganisasian kelas, evaluasi pembelajaran, dan tindak lanjut pembelajaran (remedial dan pengayaan). Kedua, pembelajaran dipandang sebagai suatu proses, maka pembelajaran merupakan rangkaian upaya atau kegiatan guru dalam rangka membuat siswa belajar. Proses tersebut meliputi:
a.    Persiapan, dimulai dari merencanakan program pengajaran tahunan, semester, dan penyusunan persiapan mengajar (lesson plan) berikut penyiapan perangkat kelengkapannya, antara lain berupa alat peraga dan alat-alat evaluasi. Persiapan pembelajaran ini juga mencakup kegiatan guru untuk membaca buku-buku atau media cetak lainnya, yang akan disajikanya kepada para siswa dan mengecek jumlah dan keberfungsian alat peraga yang akan digunakan.
b.    Melaksanakan kegiatan pembelajaran yang telah dibuatnya. Pada tahap pelaksanaan pembelajaran ini, struktur dan situasi pembelajaran yang diwujudkan guru akan banyak dipengaruhi oleh pendekatan atau strategi dan metode-metode pembelajaran yang telah dipilih dan dirancang penerapannya, serta filosofi kerja dan komitmen guru, persepsi, dan sikapnya terhadap siswa.
c.    Menindaklanjuti pembelajaran yang telah dikelolanya. Kegiatan pasca pembelajaran ini dapat berbentuk enrichment (pengayaan), dapat pula berupa pemberian layanan remedial teaching bagi siswa yang kesulitan belajar.

3.        Matematika

Istilah matematika berasal dari kata Yunani “mathein” atau “manthenein” yang artinya mempelajari. Dalam bahasa Belanda disebut “wiskunde” atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran. Berikut adalah penjelasan mengenai matematika menurut para ahli:
a.    Riedesel
Matematika adalah kumpulan kebenaran dan aturan, matematika bukanlah sekedar berhitung. Matematika merupakan sebuah bahasa, kegiatan pembangkitan masalah dan pemecahan masalah, kegiatan menemukan dan mempelajari pola serta hubungan.
b.    Prof. Dr. Andi Hakim Nasution
Matematika adalah ilmu struktur, urutan (order), dan hubungan yang meliputi dasar-dasar perhitungan, pengukuran, dan penggambaran bentuk objek.
c.    Susilo
Matematika bukanlah sekumpulan angka, symbol, dan rumus yang tidak ada kaitannya dengan dunia nyata. Justru sebaliknya, matematika tumbuh dan berakar dari dunia nyata.
d.   Yansen Marpaung
Matematika adalah ilmu yang dalam perkembangannya penggunaannya menganut metode deduksi.
e.    Suwarsono
Matematika adalah ilmu yang memiliki sifat khas yaitu objek yang bersifat abstrak, menggunakan lambing-lambang yang tidak banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dan proses berpikir yang dibatasi oleh aturan-aturan yang ketat.

4.        Pembelajaran Matematika

Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berhitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus Matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Matematika juga berfungsi untuk mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika yang dapat berupa kalimat dan persamaan matematikadiagram grafik atau tabel. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah upaya membelajarkan siswa agar siswa dapat mengembangkan cara berpikir matematika dan kemampuan berhitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

5.        Model Pembelajaran Inkuiri

Inkuiri merupakan model pembelajaran yang berupa menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada diri siswa, sehingga dalam proses pembelajaran ini siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kreativitas dalam memahami konsep dan memecahkan masalah. Pembelajaran dengan metode inkuiri memiliki 5 komponen yang umum, yaitu Question, Student Engangement, Cooperative Interactions, Performance Evaluations, dan Variety of Resource.
Question. Pembelajaran biasanya dimulai dengan sebuah pertanyaan pembuka yang memancing rasa ingin tahu siswa dan atau kekagumansiswa akan suatu fenomena. Siswa diberi kesempatan untuk bertanya, yang dimaksudkan sebagai pengarah ke pertanyaan inti atau masalah inti yang akan dipecahkan oleh siswa. Selanjutnya, guru menyampaikan pertanyaan inti atau masalah inti yang harus dipecahkan oleh siswa. Untuk menjawab pertanyaan ini sesuai dengan taxsonomy bloom siswa dituntut untuk melakukan beberapa langkah seperti evaluasi, sintesis, dan analisis. Jawaban dari pertanyaan inti tidak dapat ditemukan misalnya di dalam buku teks, melainkan harus dibuat atau dikonstrusi.
Student Engangement. Dalam metode inkuiri, keterlibatan aktif siswa merupakan suatu keharusan, sedangkan peran guru adalah sebagai fasilitator. Siswa tidak secara pasif menuliskan jawaban pertanyaan pada kolom isian atau menjawab soal-soal pada akhir bab sebuah buku, tetapi dituntut terlibat dalam menciptakan sebuah produk yang menunjukkan pemahaman siswa terhadap konsep yang dipelajari atau dalam melakukan sebuah investigasi.
Cooperative Interactions. Siswa diminta untuk berkomunikasi, bekerja berpasangan atau dalam kelomok, dan mendiskusikan  berbagai gagasan. Dalam hal ini, siswa bukan sedang berkompetisi. Jawaban dari permasalahan yang diajukan guru dapat muncul dalam berbagai bentuk dan mungkin saja semua jawaban benar.
Performance Evaluations. Dalam menjawab permasalahan, biasanya siswa diminta untuk membuat sebuat produk yang dapat menggambarkan pengetahuannya mengenai permasalahanyang sedang dipecahkan. Bentuk produk ini dapat  berupa slide presentasi, grafik, poster, karangan, dan lain-lain. Melalui produk-produk ini guru melakukan evaluasi.
Variety of Resources. Siswa dapat menggunakan bermacam-macamsumber belajar, misalnya buku teks, website, televise, video, poster, wawancara dengan ahli, dan lain sebagainya.
Langkah-langkah pembelajaran model inkuiri:
a.    Merumuskan masalah
b.    Mengamat atau melakukan observasi lapangan.
Membaca buku atau sumber lain untuk mendapatkan informasi pendukung. Mengamati dan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari sumber atau objek yang diamati.
c.    Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, table, dan karya lainnya.
d.   Mengomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audien lainnya.
Karya siswa disampaikan kepada teman sekelas atau kepada orang banyak untuk mendapatkan masukan. Bertanya jawab dengan teman. Memunculkan ide-ide baru.

6.        Identitas Trigonometri

Perhatikan segitiga ABC dengan siku-siku di C.
Berkas:TrigonometryTriangle.svg 
\sin A = \frac{a}{c}\,
\cos A = \frac{b}{c}\,
\tan A = \frac{\sin A}{\cos A}\ = \frac{a}{b}\,
\cot A = \frac{1}{\tan A} = \frac{\cos A}{\sin A}\ = \frac{b}{a}\,
\sec A = \frac{1}{\cos A}\ = \frac{c}{b}\,
\csc A = \frac{1}{\sin A}\ = \frac{c}{a}\,

Persamaan Identitas Trigonometri :

Pembuktian, jika  maka   dan jika  maka . Penjumlahan





1.        Faktor Penyebab Siswa Tidak Memahami Konsep Trigonometri

Sehubungan dengan keberagaman karakteristik siswa banyak faktor-faktor yang menyebabkan ketidakfahaman siswa terhadap konsep Trigonometri. Beberapa diantaranya yaitu :
a.         Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang umum dari dalam diri siswa sendiri. Meliputi gangguan atau kekurangmampuan psikofisik siswa, yakni:
1)        Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi siswa.
2)        Yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap.
3)        Yang bersifat psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihat dan pendengar (mata dan telinga).
b.        Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa. Meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor ini dapat dibagi tiga macam.
1)        Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
2)        Lingkungan perkampungan/masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh, dan teman sepermainan yang nakal.
3)        Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
Selain factor-faktor diatas factor lain yang menyebabkan siswa merasa sulit untuk belajar matematika khususnya pelajaran Trigonometri, dapat juga berasal dari para pengajar atau guru (meskipun tidak semua guru seperti ini). Pertama kebiasaan para guru yang memberikan materi dengan cepat dan atau kurang terperinci. Kemudian para guru terkadang lebih sering memberikan rumus – rumus dengan sedikit pemaparan atau penjelasan konsep yang mendasari rumus tersebut. Padahal, untuk membuat siswa lebih menarik dalam belajar matematika tidak seharusnya seperti itu. Dienes (Kristiyanto,2007) “Materi harus dinyatakan dalam berbagai penyajian (multiple embodiment), sehingga anak–anak dapat bermain dengan bermacam–macam material yang dapat mengembangkan minat anak didik. Berbagai penyajian materi (multiple embodiment) dapat mempermudah prose pengklasifikasian abstraksi konsep.” Selain itu, seharusnya para guru selalu memberikan motivasi agar anak merasa nyaman dengan matematika seperti memberikan ilustrasi–ilustrasi pada saat proses pembelajaran. Dienes (Kristiyanto,2007) “memotivasi anak didik untuk mengabstraksikan pelajaran tanda material konkret dengan gambar yang sederhana, grafik, peta, dan akhirnya memadukan simbol–simbol dengan konsep tersebut. Langkah–langkah ini merupakan suatu cara untuk memberikan kesempatan kepada anak didik ikut berpartisipasi dalam proses penemuan dan formulasi melalui percobaan matematika.”

2.        Penerapan Metode Pembelajaran Inkuiri Untuk Menanamkan Konsep Identitas Trigonometri pada Siswa

a.         Guru terlebih dahulu menjelaskan definisi-definisi penting sebagai pengantar pada pembahasan Identitas Trigonometri sebagai bekal bagi mereka untuk melakukan observasi dilapangan.
Guru menjelaskan mengenai segitiga ABC dengan siku-siku di B dan sudut .




,
,
,
Setelah menjelaskan mengenai segitiga ABC beserta aturan dasar trigonometri sebagai pengantar, kemudian guru mengenalkan Persamaan Identitas Trigonometri kepada siswa :

b.    Guru memberi tugas individu kepada siswa untuk mencari tau sendiri bagaimana proses terbentuknya rumus Identitas Trigonometri. Siswa dapat mencari materi dari berbagai sumber, seperti buku paket, buku dari perpustakaan, internet, dll. Sebelum itu, guru memberikan sebuah contoh untuk pembukian identitas trigonometri. Berikut pembuktiannya:


Jika  maka   dan jika  maka . Penjumlahan

Selanjutnya siswa mencari pembuktian lain dari identitas trigonometri tersebut.

c.         Siswa menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan atau sebuah resuman menggunakan bahasa mereka sendiri pada sebuah buku catatan khusus. Resuman ditulis menyerupai scrapbook yang disusun rapi dan indah. Siswa akan lebih mudah mempelajari jika materi dalam bentuk scrapbook karena materi tersajikan dengan rapi dan teratur. Apalagi materi tersebut disusun sendiri oleh siswa, maka siswa akan lebih mudah untuk mengingatnya.Contoh tampilan scrapbook:

scrapbook2.jpg

d.      Hasil pekerjaan siswa kemudian dikumpulkan kepada Guru. Guru memanggil beberapa siswa untuk mempresentasikan atau menyajikan hasil karya mereka masing-masing kepada teman sekelas dengan dipandu oleh guru.
e.         Guru dan siswa membuat kesimpulan mengenai identitas trigonometri.
PENUTUP

1.        Kesimpulan

Sehubungan dengan keberagaman karakteristik siswa banyak factor-faktor yang menyebabkan ketidakfahaman siswa terhadap konsep Trigonometri. Beberapa diantaranya yaitu, (1) Faktor intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang umum dari dalam diri siswa sendiri. Meliputi gangguan atau kekurangmampuan psikofisik siswa. (2) Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang datang dari luar diri siswa. Meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor ini dapat dibagi tiga macam. Selain faktor-faktor di atas faktor lain yang menyebabkan siswa merasa sulit untuk belajar matematika khususnya pelajaran Trigonometri, dapat juga berasal dari para pengajar atau guru (meskipun tidak semua guru seperti ini).
Penerapan metode pembelajaran inkuiri untuk menanamkan konsep trigonometri pada siswa yaitu (1) Guru terlebih dahulu menjelaskan definisi-definisi penting sebagai pengantar pada pembahasan Identitas Trigonometri sebagai bekal bagi mereka untuk melakukan observasi dilapangan. (2) Guru memberi tugas individu kepada siswa untuk mencari tau sendiri bagaimana proses terbentuknya rumus Identitas Trigonometri. (3) Siswa menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan atau sebuah resuman menggunakan bahasa mereka sendiri pada sebuah buku catatan khusus. (4) Hasil pekerjaan siswa kemudian dikumpulkan kepada Guru. Guru memanggil beberapa siswa untuk mempresentasikan atau menyajikan hasil karya mereka masing-masing kepada teman sekelas dengan dipandu oleh guru.

2.        Saran

Seorang guru harus kreatif memilih dan menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi dan keadaan peserta didik. Agar materi dan konsep-konsep yang dipelajari dapati dipahami dengan baik, sehingga pelajaran matematika tidak menjadi beban dan hal yang menakutkan bagi peserta didik.

REFERENSI
[1]     Ag, Moch. Masykur., Fathani, Abdul Halim. 2008. Mathematical Intelligence: Cara Cerdas Melatih Otak dan Menanggulangi Kesulitan Belajar. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
[2]     Komalasari, Kokom. 2011. Pembelajaran Konseptual Konsep dan Aplikasi. Bandung: Refika Aditama.
[3]     Prihandoko, Antonius Cahya. 2006. Memahami Konsep Matematika Secara Benar dan Menyajikannya dengan Menarik. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
[4]     Sanjaya, Wina. 2009. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
[5]     Syah, Muhibbin. 2011. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
[8]     http://Jeranopendidikan.blogspot.com/2012/03/hakikat-pembelajaran-matematika.html?m=1